Dosen
S2 dari UMS sampai Australia

Dian Purworini, Dosen
Public Relations dan Marketing Komunikasi ini memiliki pengalaman yang sudah
tidak diragukan lagi. Ia lulusan dari salah satu universitas ternama di
Indonesia, Universitas Gajah Mada (UGM). Pengalamannya selama belajar di UGM
dan Charles Darwin Univrsity ingin ia tularkan kepada teman-teman di Ilmu
Komunikasi UMS.
Dian bukan tipe orang
yang gampang puas dengan apa yang sudah ia dapatkan. Menjadi lulusan kelas
Internasional UGM dan menjadi Dosen Ilmu Komunikasi UMS tidak membuatnya jemawa.
Menambah kekayaan ilmu, Ia sempat mengambil les singkat ke Charles Darwin
university of Australia. “Saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara
karena Australia termasuk salah satu negara yang penduduknya banyak dari negara
lain,” critanya.
Di Australia, Dian
sempat merasakan shock culture karena
baru pertama kali pergi dan tinggal cukup lama di luar negeri. Namun selang
beberapa hari, Ia mampu membiasakan diri dengan kebiasaan disana. Ia malah
senang bisa berkenalan dengan banyak orang dari berbagai negara. “Banyak orang
disana itu menganggap bali adalah negara sendiri namun sudah saya jelaskan jika
bali itu salah satu bagian dari Indonesia,” katanya saat ditemui diruangan
kerjanya.
Ia mengatakan,
kepedulian orang luar terhadap negara kita juga tinggi terbukti pada saat
gunung merapi meletus beberapa tahun silam. Teman-temannya antusias dan mau
membantu. Hal itu, membuat Dian dan teman-teman dari berbagai negara tersebut
saling mengerti.
Bercerita pengalamannya
dikelas, Ada perbedaan sistem di Australia dan Indonesia. Di Australia, dosen
yang masuk itu langsung menanyakan pokok bahasan kepada mahasiswa, jadi mereka
yang tidak belajar akan sangat kelihatan. “Mahasiswa disana itu dituntut untuk selalu
aktif beropini,” terang Dian.
Dosen tidak hanya
berceramah didepan kelas, namun juga memberikan kasus-kasus untuk dianalisis.
Jadi, mahasiswa di Charles Darwin University itu termasuk mahasiswa yang aktif
karena mendapatkan sistem pembelajaran yang bagus. Dian mencoba membawa cara
belajar itu ke UMS agar hasil mahasiswanya juga tidak kalah dengan mahasiswa
luar negeri. “Saya mencobanya di Ilmu Komunikasi UMS, namun sebelumnya saya
sudah pernah mendapat pembelajaran seperti ini di UGM,” tuturnya.
Ada masalah ketika cara
belajar seperti itu dibawa ke Ilmu Komunikasi UMS. Belum semua mahasiswa mampu
mengikuti sistem seperti ini. Kebanyakan dari mereka lebih senang mendengarkan
dan diam ketimbang mengeluarkan opini. Budaya seperti ini yang ingin Dian rubah
dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS.
Untuk merubah budaya
ini, Dian tidak hanya membiarkan mahasiswanya begitu saja. Ia melihat juga
apakah ada progress dari mahasiswanya atau tidak. Misalnya, dari tugas-tugas
yang diberikan, kemudian dari semester sebelum dan sesudahnya apakah mahasiswa
tersebut masih sama atau malah mundur prestasinya.
Selain itu, Dian
menjelaskan kenapa Ia ingin mengubah budaya mahasiswa khususnya di Ilmu
Komunikasi UMS. Ia melihat mahasiswa di Luar itu lebih memiliki etika. Misalnya,
mereka bisa menghargai saat pelajaran tidak banyak yang smsan dan ngobrol.
Namun, jika kita lihat di lingkungan kita. Mahasiswa masih banyak yang tidak
menghargai dan suka ngobrol.
Mahasiswa-mahasiswa
yang bisa mengikuti cara belajarnya tersebut mampu berkembang lebih positif.
Misalnya saja, cara pandang yang luas kemudian berani berpendapat dan analisis
yang mereka keluarkan bisa lebih tajam. “Namun, bagi mereka yang hanya diam
saja dikelas ya tetap tidak ada perkembangan yang besar,” jelas Dian.
Perbedaanya lagi, bisa
terlihat pada saat ujian akhir semester. Suasana ujian disana benar-benar
hening dan tidak ada mahasiswa yang berani mencontek. Pengawas ujian juga
benar-benar ketat. “Bahkan jika ada mahasiswa yang mau pergi Ke kamar mandi
pengawas akan menikutinya,” papar Dian.
Masih banyak yang perlu
dirubah dari pendidikan Indonesia, Dian mendapatkan cerita dari temannya yang
berasal dari Taiwan. Di Taiwan, Dosen strata 2 itu baru menjadi asisten dosen
bukan dosen. Namun, jika di Indonesia sudah bisa menjadi dosen. Rata-rata dosen
yang berada diLuar sudah S3.
Namun, bukan berarti
dosen di UMS tidak berkualitas. Teman-teman dosen yang masih strata 1 itu bukan
berarti mereka tidak berkualitas. Semuanya sudah masuk standard mutu, Masuk di
UMS saja sudah berat dan testnya tidak main-main. Misalnya toefl untuk menjadi
dosen UMS saja harus mencapai 500. “Masalah S2 itu hanya soal waktu saja kok,” terangnya.
Dosen-dosen di
Komunikasi UMS juga banyak mengambil materi bukan hanya dari luar juga. Saat
ini ilmu khususnya dibidang komunikasi sedang berkembang pesat baik diluar atau
didalam negeri. “Permasalahannya, kita belum memiliki buku yang luar negeri
dalam artian buku-buku itu belum ditraslate ke bahasa Indonesia,” tutur Dian.
Dian berharap Ilmu
komunikasi UMS mampu berperan aktif dalam membantu masyarakat. Ia menambahkan,
mahasiswa komunikasi UMS jangan hanya bercita-cita menjadi wirausaha, atau
bekerja di perusahaan mana. “Yang penting bisa berguna di masyarakat sekitar,”
jelasnya. (Ryantono Puji Santoso)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuspernah belajar dismpn15dan sman5ska
BalasHapuspernah belajar dismpn15dan sman5ska
BalasHapus